Brasil vs Jepang berakhir 2-1 untuk Selecao dalam laga Round of 32 Piala Dunia 2026 di Houston Stadium, Senin 29 Juni waktu AS atau Selasa 30 Juni WIB. Jepang sempat unggul lewat Kaishu Sano, tetapi Brasil membalikkan keadaan melalui Casemiro dan gol Gabriel Martinelli pada menit ke-95 untuk lolos ke babak 16 besar.
Jepang Datang Bukan Sekadar Bertahan
Brasil memasuki laga ini sebagai favorit. Tim asuhan Carlo Ancelotti datang sebagai juara Grup C, membawa status lima kali juara dunia, dan memiliki lini depan yang dipenuhi nama besar. Namun, pertandingan ini sejak awal tidak pernah terlihat mudah.
Jepang datang dengan modal percaya diri. Samurai Blue finis sebagai runner-up Grup F setelah melewati fase grup tanpa kekalahan. Mereka juga membawa memori kemenangan 3-2 atas Brasil dalam laga persahabatan Oktober 2025, kemenangan pertama Jepang atas Selecao dalam sejarah pertemuan kedua tim.
Di sisi Brasil, sorotan besar mengarah kepada Neymar. Ia sebelumnya baru kembali tampil singkat setelah cedera betis. Namun, melawan Jepang, Ancelotti akhirnya tidak menurunkannya karena Brasil berhasil menyelesaikan laga sebelum extra time.
Sano Bikin Selecao Tertekan
Jepang memulai pertandingan dengan disiplin tinggi. Mereka tidak hanya menunggu di belakang, tetapi juga berani menekan ketika Brasil melakukan kesalahan. Pendekatan itu membuahkan hasil pada menit ke-29.
Kaishu Sano membaca umpan buruk Danilo, merebut bola, lalu menggiringnya ke area berbahaya sebelum melepaskan tembakan kaki kanan yang menaklukkan Alisson Becker. Gol itu membuat Jepang unggul 1-0 dan mengubah tekanan sepenuhnya ke arah Brasil.
Brasil sebenarnya menguasai bola, tetapi Jepang tampil sangat rapi pada babak pertama. Para pemain Jepang menutup ruang antar lini, memutus jalur umpan, dan membuat Vinícius Júnior serta rekan-rekannya kesulitan menemukan ritme.
Setelah jeda, wajah pertandingan berubah. Brasil bermain dengan tempo lebih tinggi dan mendorong lebih banyak pemain ke kotak penalti. Reuters menulis Ancelotti tampaknya memberi dorongan kuat pada jeda karena Brasil tampil jauh lebih agresif di babak kedua.
Gol penyeimbang akhirnya datang pada menit ke-56. Casemiro menyambut umpan silang Gabriel Magalhães dan menanduk bola ke gawang Zion Suzuki. Gol itu penting bukan hanya untuk skor, tetapi juga untuk mengangkat kepercayaan diri Brasil yang sempat terlihat frustrasi.
Martinelli Jadi Pembeda di Menit 95
Setelah skor 1-1, Brasil terus menekan. Vinícius Júnior hampir mencetak gol ketika aksinya di sisi kiri berakhir dengan tembakan yang ditepis Suzuki ke tiang gawang. Momen itu menjadi tanda bahwa Jepang mulai kehilangan energi, tetapi mereka tetap bertahan dengan keras kepala.
Ketika extra time sudah terlihat dekat, Gabriel Martinelli muncul sebagai pembeda. Bruno Guimarães menerima bola di tepi kotak penalti, menahan sejenak, lalu menyelipkan umpan ke ruang yang tepat. Martinelli menyelesaikannya dengan tenang ke tiang jauh.
Gol pada menit ke-95 itu langsung mengubah seluruh cerita. Reuters mencatat gol Martinelli menjadi gol kemenangan paling telat dalam waktu normal pertandingan knockout Piala Dunia sejak 1966. Jepang yang tinggal beberapa detik dari extra time akhirnya harus menerima kenyataan pahit.
Brasil Lolos, tapi Dapat Peringatan Keras
Bagi Brasil, kemenangan ini penting karena menjaga jalur mereka di Piala Dunia 2026. Selecao melaju ke babak 16 besar dan akan menghadapi pemenang laga Norwegia vs Pantai Gading di East Rutherford, New Jersey.
Namun, kemenangan ini juga menjadi peringatan. Brasil tidak tampil mulus. Mereka sempat kehilangan kontrol, membuat kesalahan sendiri, dan membutuhkan gol injury time untuk selamat dari kejutan besar.
Ancelotti layak mendapat kredit karena perubahan babak kedua bekerja. Ia tidak panik, tetap mempertahankan struktur tim, dan memasukkan Martinelli sebagai tenaga segar. AP mencatat Ancelotti menilai Martinelli memberi intensitas tinggi ketika masuk ke lapangan.
Namun, ada kabar yang perlu dipantau. Casemiro meninggalkan lapangan pada awal injury time babak kedua dengan indikasi masalah pada kaki. Jika cedera itu serius, Brasil bisa kehilangan salah satu pemain paling berpengalaman mereka sebelum babak berikutnya.
Jepang Tersingkir, tetapi Tidak Dipermalukan
Bagi Jepang, kekalahan ini sangat menyakitkan. Mereka kembali gagal meraih kemenangan pertama di fase gugur Piala Dunia. AP mencatat Jepang belum pernah menang dalam laga knockout Piala Dunia, termasuk ketika mereka sempat unggul pada edisi 2018 dan 2022 sebelum akhirnya kalah.
Namun, Samurai Blue tidak pulang dengan kepala tertunduk sepenuhnya. Mereka memberi Brasil ujian serius, unggul lebih dulu, dan menunjukkan bahwa jarak dengan tim elite dunia semakin mengecil. Hajime Moriyasu bahkan menilai Jepang semakin mendekati level tim papan atas, meski masih harus meningkatkan kualitas pada momen penentu.
Kekalahan ini terasa kejam karena datang sangat terlambat. Tetapi secara performa, Jepang membuktikan bahwa sepak bola Asia tidak lagi hanya menjadi pelengkap di panggung besar.
Apa Berikutnya?
Brasil kini menunggu pemenang Norwegia vs Pantai Gading. Jika Norwegia lolos, duel berikutnya bisa menghadirkan cerita besar antara lini belakang Brasil dan Erling Haaland. Jika Pantai Gading yang melaju, Brasil akan menghadapi salah satu tim paling fisik di turnamen ini.
Bagi Jepang, evaluasi akan berpusat pada manajemen energi, kedalaman skuad, dan ketenangan saat berada di depan. Mereka sudah sangat dekat dengan sejarah, tetapi sekali lagi gagal menutup laga besar.
Brasil vs Jepang menjadi salah satu laga paling dramatis di Round of 32 Piala Dunia 2026. Jepang hampir menulis sejarah, tetapi Brasil punya kualitas yang membuat mereka tetap hidup hingga detik terakhir.
Martinelli masuk dari bangku cadangan, menemukan ruang di momen paling penting, dan mengirim Selecao ke babak berikutnya. Brasil selamat. Jepang tersingkir. Dan Piala Dunia kembali mengingatkan bahwa satu detik di fase gugur bisa mengubah seluruh nasib sebuah bangsa.