Jerman vs Paraguay berakhir dramatis di Round of 32 Piala Dunia 2026. Paraguay menang 4-3 lewat adu penalti setelah bermain 1-1 selama 120 menit di Boston Stadium, Foxborough, Senin 29 Juni waktu setempat, sekaligus memberi Jerman kekalahan adu penalti pertama mereka dalam sejarah Piala Dunia.
Jerman Datang sebagai Favorit Besar
Di atas kertas, laga ini seharusnya menjadi jalan aman bagi Jerman. Mereka datang sebagai juara dunia empat kali, punya skuad dengan nama besar, dan menghadapi Paraguay yang masuk pertandingan sebagai underdog.
Namun, sepak bola fase gugur jarang berjalan sesuai prediksi. Paraguay datang dengan rencana sederhana: bertahan rapat, mempersempit ruang, dan menyeret Jerman ke area yang tidak nyaman. Strategi itu terlihat konservatif, tetapi akhirnya menjadi senjata paling mematikan.
AP mencatat Paraguay berada di peringkat ke-41 FIFA, sedangkan Jerman masuk sebagai tim peringkat ke-10 dunia. Dari sisi reputasi, jaraknya besar. Dari sisi mental pertandingan, Paraguay justru tampil lebih siap menanggung penderitaan.
Jerman juga membawa beban sejarah. Setelah juara dunia 2014, Die Mannschaft tersingkir di fase grup Piala Dunia 2018 dan 2022. Kali ini, mereka memang melewati fase grup, tetapi tetap pulang lebih cepat dari ekspektasi.
Dominasi yang Tidak Efektif
Jerman memulai pertandingan dengan dominasi penguasaan bola. Julian Nagelsmann memasang susunan pemain ofensif dan memberi Deniz Undav, top skor tim di fase grup, kesempatan menjadi starter.
Namun, dominasi itu tidak menghasilkan ketajaman. Reuters mencatat Jerman tidak mencatat satu pun tembakan tepat sasaran pada babak pertama, meski pada menit ke-35 mereka sudah menyelesaikan 244 operan berbanding 31 milik Paraguay.
Paraguay justru menghukum Jerman pada menit ke-42. Miguel Almirón kembali ke tim setelah suspensi, lalu ikut dalam rangkaian serangan cepat dari sisi kanan. Bola akhirnya diselesaikan Julio Enciso dengan sundulan yang membawa Paraguay unggul 1-0. Reuters menyebut itu sebagai gol pertama Paraguay di fase gugur Piala Dunia.
Jerman baru bisa menyamakan kedudukan pada awal babak kedua. Florian Wirtz mengirim umpan silang dari sisi kiri, lalu Kai Havertz menanduk bola untuk membuat skor menjadi 1-1. Setelah itu, Jerman terus menekan, tetapi Paraguay bertahan dengan disiplin ekstrem.
Drama besar muncul pada extra time. Jonathan Tah sempat mengira telah mencetak gol kemenangan Jerman pada menit ke-102. Namun, gol itu dibatalkan setelah tinjauan VAR karena Waldemar Anton dianggap melakukan pelanggaran terhadap kiper Orlando Gill dalam proses serangan.
Adu Penalti: Orlando Gill Jadi Pahlawan Paraguay
Saat pertandingan masuk adu penalti, banyak yang mengira Jerman berada di zona nyamannya. Selama puluhan tahun, Jerman dikenal sebagai tim yang hampir selalu dingin dari titik putih.
Tetapi malam di Foxborough meruntuhkan mitos itu. Kai Havertz, Nick Woltemade, dan Jonathan Tah gagal mengeksekusi penalti. AP mencatat Tah menjadi penendang terakhir Jerman yang gagal, sebelum José Canale maju dan mencetak penalti penentu untuk Paraguay.
Orlando Gill menjadi tokoh utama. Ia membuat dua penyelamatan penting dalam adu penalti, termasuk menggagalkan tendangan Havertz. Reuters menyebut kekalahan ini mengirim “shockwaves” karena Jerman sebelumnya dianggap nyaris tidak tersentuh dalam duel penalti di Piala Dunia.
Bagi Paraguay, ini bukan sekadar kemenangan. Ini adalah pembalasan sejarah. Pada Piala Dunia 2002, Jerman pernah menyingkirkan Paraguay 1-0 di babak 16 besar. Kini, hampir seperempat abad kemudian, Paraguay membalasnya dengan cara paling dramatis.
Jerman Masuk Krisis Baru
Kekalahan ini akan memukul sepak bola Jerman lebih dalam. Mereka datang dengan target besar untuk mengembalikan reputasi internasional, tetapi kembali gagal menunjukkan identitas yang meyakinkan.
Masalah Jerman bukan hanya kalah adu penalti. Mereka gagal membongkar pertahanan Paraguay selama 120 menit, meski mendominasi bola dan memainkan banyak pemain kreatif. Dalam pertandingan gugur, dominasi tanpa efisiensi hanya menjadi statistik kosong.
Nagelsmann kini berada di bawah tekanan besar. Reuters melaporkan pelatih berusia 38 tahun itu ingin tetap melatih Jerman, tetapi masa depannya tidak lagi sepenuhnya ada di tangannya setelah kegagalan ini.
Kekalahan ini juga mengubah cara publik melihat Jerman. Dulu, mereka identik dengan ketenangan, detail, dan kekuatan mental. Kini, mereka terlihat seperti tim besar yang kehilangan cara untuk menyelesaikan pertandingan besar.
Paraguay Bukan Sekadar Bertahan
Di sisi lain, Paraguay pantas mendapat kredit penuh. Mereka tidak bermain indah, tetapi bermain sesuai kebutuhan. Gustavo Alfaro membangun tim yang rela menderita, menutup ruang, dan tidak panik saat ditekan.
Alfaro menyebut para pemainnya pulang sebagai “legenda” setelah kemenangan ini. Reuters juga mencatat Paraguay masuk fase gugur setelah awal turnamen yang sulit, termasuk kekalahan 1-4 dari tuan rumah Amerika Serikat, sebelum akhirnya menemukan momen terbesar melawan Jerman.
Kemenangan ini langsung berdampak besar di Paraguay. Presiden Santiago Peña menetapkan hari Selasa sebagai hari libur nasional untuk merayakan keberhasilan tim nasional menyingkirkan Jerman dan mencapai 16 besar Piala Dunia 2026.
Apa Berikutnya untuk Paraguay?
Paraguay akan menghadapi pemenang laga Prancis vs Swedia di babak 16 besar. AP melaporkan pertandingan berikutnya dijadwalkan berlangsung pada Sabtu di Philadelphia, dengan peluang kembali ke Foxborough jika Paraguay mampu melaju lebih jauh.
Tantangan berikutnya jelas tidak mudah. Jika bertemu Prancis, Paraguay akan menghadapi salah satu skuad paling eksplosif di turnamen. Jika bertemu Swedia, mereka akan menghadapi tim muda yang punya tenaga dan keberanian.
Namun, setelah menyingkirkan Jerman, Paraguay tidak perlu takut siapa pun. Mereka sudah membuktikan bahwa organisasi, keberanian, dan mental bisa menjatuhkan raksasa.
Jerman vs Paraguay menjadi salah satu malam paling mengejutkan di Piala Dunia 2026. Jerman pulang dengan luka besar, sementara Paraguay menulis sejarah yang akan dikenang lama.
Satu adu penalti mengubah segalanya. Mitos Jerman runtuh, Orlando Gill menjadi pahlawan, José Canale mencetak momen hidupnya, dan Paraguay berdiri sebagai simbol bahwa di Piala Dunia, nama besar tidak pernah cukup untuk menang.